AKTIVA TETAP BERWUJUD

BAB  VII

AKTIVA TETAP BERWUJUD

(Depresiasi dan Deplesi)

 

A. PENGERTIAN PENYUSUTAN (DEPRESIASI)

Aktiva yang telah dipakai dalam beberapa tahun tentu mengalami penurunan nilai wajar sehingga tidak mungkin perusahaan akan menyajikan berdasar harga perolehan semula. Juga perlu disepakati bahwa kebanyakan tidak dapat dihindarkan  bahwa manfaat aktiva telah menurun. Agar nilai aktiva mendekati harga pasar atau nilai wajar maka tiap-tiap tahun perusahaan akan mengalokasikan harga perolehan menjadi biaya setiap periode akuntansi. PSAK No.17 mendefinisikan depresiasi (penyusutan) adalah alokasi jumlah aktiva suatu aktiva yang dapat disusutkan sepanjang masa manfaat yang diestimasi yang akan dibebankan ke pendapatan baik secara langsung maupun tidak langsung. Aktiva tidak disusutkan berdasarkan  penurunan nilai  wajarnya, tetapi berdasarkan pembebanan sistematik pada perkiraan beban (expense).

Keyso Weygandt dalam Herman Wibowo (1995:2) mendefinisikan penyusutan sebagai proses akuntansi untuk mengalokasikan harga pokok (cost) aktiva berwujud pada beban dengan cara yang sistematik dan rasional dalam periode-periode yang mengambil manfaat dari penggunaan aktiva tersebut. Menurut definisi ini nampaknya pendekatan alokasi biaya diantara tanggal penyusunan neraca digunakan karena pencocokan biaya dengan pendapatan harus dilakukan dan nilai pasar bersifat fluktuasi yang sulit diukur.

Comitte on terminology dari AICPA (1953) dalam Zaki Baridwan mendefinisikan akuntansi depresiasi adalah suatu sistem akuntansi yang bertujuan untuk membagikan harga perolehan atau nilai dasar lain dari aktiva tetap berwujud, dikurangi nilai sisa (jika ada) selama umur kegunaan unit yang ditaksir (mungkin berupa suatu kumpulan aktiva-aktiva) dalam suatu cara yang sistematis dan rasional. Ini merupakan proses alokasi bukan penilaian. Beban depresiasi untuk suatu tahun adalah sebagian dari jumlah total beban itu yang dengan sistem tersebut dialokasikan ke tahun yang bersangkutan. Meskipun di dalam alokasi itu diperhitungkan hal-hal yang terjadi selama tahun itu, tidaklah dimaksudkan sebagai alat pengukur terhadap akibat-akibat dari kejadian-kejadian itu.

Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa penyusutan adalah alokasi harga perolehan dan dapat kita bandingkan mana yang penyusutan dan mana yang bukan.

  1. Penyusutan bukan proses penilaian. Perusahaan tidak mencatat penyusutan berdasarkan nilai pasar (jual) aktiva.
  2. Penyusutan bukan berarti bahwa perusahaan menyisihkan kas untuk mengganti aktiva ketika sudah habis masa pakainya. Penyusutan tidak ada hubungannya dengan kas.

Perlu juga ditegaskan bahwa tidak semua aktiva tetap dapat disusutkan, aktiva yang dapat disusutkan adalah yang memenuhi kriteria :

1)      Aktiva tersebut dapat digunakan lebih dari satu periode akuntansi.

2)      Aktiva tersebut memiliki masa manfaat yang terbatas.

3)      Aktiva yang dimiliki perusahaan untuk digunakan dalam produksi atau memasok barang atau jasa, untuk disewakan, atau untuk tujuan administrasi.

Penyusutan (depresiasi) digunakan untuk alokasi harga perolehan terhadap aktiva tetap yang memiliki kriteria seperti tersebut di atas, sehingga yang tidak memiliki tidak dapat digolongkan sebagai aktiva tetap. Tanah merupakan aktiva perusahaan tetapi karena  memiliki masa manfaat yang tidak terbatas maka tidak didepresiasi. Mobil yang digunakan untuk mengantar sepeda motor ke pelanggan pada perusahaan  dagang sepeda motor  termasuk  aktiva tetap yang harus didepresiasi, tetapi mobil yang dipajang untuk dijual bukan termasuk aktiva yang didepresiasi tetapi termasuk persediaan barang dagangan.

Untuk perusahaan yang bergerak dalam bidang yang melibatkan sumber-sumber  alam, seperti batubara, pertambangan emas, pengeboran minyak dan sebagainya, istilah alokasi harga perolehan sering disebut dengan deplesi (depletion). Sedangkan untuk aktiva tetap tidak berwujud seperti hak merk, paten, goodwill alokasi harga perolehannya disebut dengan amortisasi yang akan dibahas pada bab berikutnya.

 

B. Faktor- faktor yang menentukan besarnya depresiasi

Untuk menghitung besarnya depresiasi setiap periode diperlukan beberapa hal :

1)      Dasar atau metode yang digunakan untuk aktiva yang bersangkutan.

Dasar atau metode yang digunakan ini umumnya melihat jenis aktivanya, gedung umumnya digunakan metode garis lurus, mesin atau kendaraan umumnya digunakan metode jam jasa atau metode angka tahun.

2)      Taksiran umur kegunaan aktiva

Taksiran ini perlu dipertimbangkan penyebab keausan fisik dan fungsional. Terkait dengan metode depresiasi yang digunakan maka taksiran umur dapat berupa lamanya dalam berapa tahun aktiva dapat digunakan dapat juga dengan taksiran hasil produksi (untuk mesin) kira-kira dapat untuk memproduksi berapa satuan sampai mesin itu aus. Untuk kendaraan taksiran dapat  dengan satuan jam kerja, yaitu berapa kilometer  kendaraan  tersebut dapat digunakan sampai aus.

C. Metode perhitungan depresiasi 

Metode penyusutan dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

  1. Metode garis lurus (straight-line)
  2. Metode aktivitas (unit penggunaan atau produksi)
  3. Metode beban menurun (reducing-charge method)

a)      Metode angka tahun (sum of years-digits  method)

b)      Metode menurun ganda (double declining balance method)

c)      Metode tarif menurun (declining rate on cost method)

  1. Metode penyusutan khusus

a)      Metode persediaan

b)      Metode penarikan dan penggantian

c)      Metode kelompok dan gabungan

d)     Metode bunga majemuk

 

  1. 1.      Metode garis lurus (straight-line)

Metode ini dapat dikatakan paling sederhana dan mudah sehingga banyak digunakan, yaitu dengan mengalokasikan harga perolehan selama umur kegunaan yang ditaksir. Dengan demikian besarnya penyusutan tiap tahun sama (kecuali kalau ada penyesuaian-penyesuaian misal penilaian kembali aktiva).

Contoh 1 : Sebuah gedung yang dibangun dengan harga perolehan Rp250.000.000,00 setelah digunakan selama 5 tahun gedung ditaksir senilai Rp 50.000.000,00.

Dari contoh di atas gedung dapat didepresiasi dengan rumus:

Depresiasi =

Dari contoh di atas maka besarnya depresiasi tiap tahun dapat dihitung sebagai berikut :

Jika disajikan dalam tabel penyusutan maka akan seperti di bawah ini :

Tabel Depresiasi – Metode Garis Lurus

Akhir Thn      ke-

Debit Depresiasi

Kredit Akumulasi Depresiasi

Total Akumulasi Depresiasi

Nilai Buku Aktiva

Rp 250.000.000,00

1

Rp 40.000.000,00

Rp 40.000.000,00

Rp  40.000.000,00

Rp 210.000.000,00

2

Rp 40.000.000,00

Rp 40.000.000,00

Rp  80.000.000,00

Rp 170.000.000,00

3

Rp 40.000.000,00

Rp 40.000.000,00

Rp120.000.000,00

Rp 130.000.000,00

4

Rp 40.000.000,00

Rp 40.000.000,00

Rp160.000.000,00

Rp   90.000.000,00

5

Rp 40.000.000,00

Rp 40.000.000,00

Rp200.000.000,00

Rp   50.000.000,00

Metode tersebut sering digunakan karena mudah namun kurang mempertimbangkan ketepatan metode sehingga ketika disajikan aktiva menjadi tidak wajar. Dalam hal aktiva berupa mesin metode ini kurang tepat karena mesin tiap-tiap tahun kapasitas produksi semakin menurun sedangkan depresiasi tetap maka khususnya pada tahun terakhir beban depresiasi tidak imbang antara jumlah beban depresiasi masih tetap besar sedangkan  jumlah produk yang dihasilkan berkurang.

  1. 2.      Metode aktivitas (unit penggunaan atau produksi)

Metode aktivitas mengasumsikan bahwa penyusutan merupakan fungsi dari penggunaan atau produktivitas dan bukan dari berlalunya waktu. Dalam metode ini yang ditaksir adalah satuan keluaran (output) yang diberikan (jumlah yang diproduksi sampai aktiva itu aus). Metode ini    seringkali disebut dengan pendekatan beban variabel.

Contoh 2: mesin yang dibeli dengan harga perolehan Rp 250.000.000,00 ditaksir selama empat tahun dapat memproduksi 45.000 unit produksi dan nilai residu Rp25.000.000,00.

Dari contoh di atas depresiasi dapat dihitung sebagai berikut :

Tarif depresiasi per unit   =

Tarif depresiasi per unit   =

= Rp 5.000,00 per unit.

Setelah terdapat tarif maka depresiasi dihitung sesuai dengan unit produksi yang dihasilkan, misalnya pada tahun pertama menghasilkan 12.000 unit maka besarnya depresiasi = 12.000 x Rp 5.000,00 = Rp60.000.000,00

Selanjutnya setelah diketahui jumlah produksi tiap tahunnya maka dapat disajikan dalam tabel seperti di bawah ini :

Tabel Depresiasi – Metode Hasil Produksi

Thn Ke-

Hasil Produk       (unit)

Debit Depresiasi

Kredit Akumulasi Depresiasi(Total)

Nilai Buku Mesin

Rp 250.000.000,00

1

12.000

Rp 60.000.000,00

Rp 60.000.000,00

Rp 190.000.000,00

2

11.500

Rp 57.500.000,00

Rp 117.500.000,00

Rp 132.500.000,00

3

11.000

Rp 55.000.000,00

Rp 172.500.000,00

Rp   77.500.000,00

4

10.500

Rp 52.500.000,00

Rp225.000.000,00

Rp   25.000.000,00

Pada tabel di atas jumlah produk yang dihasilkan itu hanya permisalan yang memang secara logika menurun, dalam praktik tidak pasti menurunnya secara sistematik seperti tersebut di atas. Metode ini dapat juga digunakan untuk depresiasi aktiva berupa kendaraan.

Contoh 3 : Misalnya kendaraan yang dibeli dengan harga perolehan Rp200.000.000,00 dan digunakan selama lima tahun ditaksir dapat sampai 18.000 km dengan nilai sisa Rp 20.000.000,00 maka tarif depresiasi per km adalah =    = Rp 10.000,00

Misal tahun pertama digunakan 4.500 km maka depresiasi tahun itu adalah : 4.500 x Rp 10.000,00 = Rp 45.000.000,00

Jika dimisalkan selama lima tahun penggunaannya menurun setiap tahun maka dapat disajikan dalam tabel seperti di bawah ini :

Tabel Depresiasi – Metode Jam Jasa

Thn Ke-

Jam Kerja Kendaraan      (km)

Debit Depresiasi

Kredit Akumulasi Depresiasi(total)

Nilai Buku Kendaraan

Rp 200.000.000,00

1

4.500

Rp  45.000.000,00

Rp  45.000.000,00

Rp 155.000.000,00

2

4.000

Rp  40.000.000,00

Rp  85.000.000,00

Rp 115.000.000,00

3

3.800

Rp  38.000.000,00

Rp  123.000.000,00

Rp   77.000.000,00

4

3.200

Rp  32.000.000,00

Rp 155.000.000,00

Rp   45.000.000,00

5

2.500

Rp  25.000.000,00

Rp  180.000.000,00

 Rp   20.000.000,00

18.000

Rp180.000.000,00

Rp180.000.000,00

Metode ini juga sangat tepat jika digunakan untuk menghitung depresiasi aktiva berupa kendaraan, karena sesuai dengan jam pemakian dan kendaraan makin  aus maka kapasitas kendaraan menurun.

  1. 3.      Metode beban menurun (reducing-charge method)

Metode ini beban penyusutan  tiap tahunnya berkurang, pendekatan ini menggunakan rasional bahwa pada tahun-tahun awal mesin dapat berproduksi lebih banyak dibanding tahun-tahun berikutnya. Hal yang lain adalah semakin tambah tahun maka keadaan mesin menurun dan membutuhkan biaya reparasi dan pemeliharaan yang semakin besar. Metode ini ada beberapa cara yaitu: a) metode  angka tahun (sum of years-digits  method) b) metode menurun ganda (double declining balance method) c) metode tarif menurun (declining rate on cost method)

a)   Metode angka tahun (sum of years-digits  method)

Pada metode jumlah penyusutan pada tahun pertama besar kemudian menurun berdasarkan pecahan yang menurun dari dasar penyusutan. Pecahan terdiri dari penyebut dan pembilang, sebagai penyebut adalah jumlah tahun misal mesin ditaksir berumur 5 tahun maka penyebutnya adalah : 5+4+3+2+1 = 15. Sedangkan sebagai pembilangnya adalah jumlah taksiran umur kegunaan yang tersisa pada awal tahun, dengan demikian pembilangnya menurun sedangkan penyebutnya tetap yaitu 15. Dari mesin yang berumur 5 tahun tersebut pecahannya menjadi 5/15; 4/15; 3/15; 2/15; 1/15 dikalikan harga perolehan dikurangi nilai sisa (jika ada).

Contoh 4 : Mesin yang dibeli dengan harga Rp 300.000.000,00 ditaksir berumur 5 tahun dan memiliki nilai residu Rp 30.000.000,00. Dari contoh di atas maka sebagai penyebutnya adalah 5+4+3+2+1 = 15, pembilangnya tahun ke 1=5; ke2=4; ke 3=3; ke 4=2 dan ke 5=1. Selanjutnya dari perhitungan penyusutan beban penyusutan dapat disajikan pada tabel di bawah ini :

 

Tabel Depresiasi – Metode Penyusutan Jumlah Angka Tahun

Thn

Dasar Penyusutan

Umur Tersisa dalam Tahun

Pecahan Penyust

Beban Penyusutan

Nilai Buku Akhir Tahun

Rp300.000.000,00

1

Rp270.000.000,00

5

5/15

Rp  90.000.000,00

Rp210.000.000,00

2

Rp270.000.000,00

4

4/15

Rp  72.000.000,00

Rp138.000.000,00

3

Rp270.000.000,00

3

3/15

Rp  54.000.000,00

Rp  84.000.000,00

4

Rp270.000.000,00

2

2/15

Rp  36.000.000,00

Rp  48.000.000,00

5

Rp270.000.000,00

1

1/15

Rp  18.000.000,00

Rp  30.000.000,00

15

Rp270.000.000,00

b) Metode menurun ganda (double declining balance method)

Metode ini sering disebut dengan penyusutan yang dipercepat (accelerated depreciation method) yaitu jumlah penyusutan pada  tahun-tahun awal besar dan pada tahun belakangan kecil. Teknik perhitungan metode ini adalah menghitung dengan cara garis lurus kemudian dikalikan beberapa kelipatan, misal kalau mesin ditaksir umur 5 tahun maka menurut garis lurus adalah 10% namun dengan metode ini misal dikalikan 2 menjadi 20%. Jika umur mesin 10 tahun maka menjadi 20%. Oleh karena itu metode ini disebut dengan metode saldo menurun berganda (Double Declining Balance=DDB.

Dari contoh  4  di atas jika mesin menggunakan metode saldo menurun ganda akan tampak pada tabel di bawah ini :

Tabel Depresiasi – Metode Penyusutan Menurun Ganda

(dlm rupiah)

Thn

Nilai Buku Aktiva Awal Tahun

Tarif Saldo Menurun

Debet Beban Penyusutan

Saldo Akumulasi Penyusutan

Nilai Buku Akhir Tahun

1

300.000.000,00

40%

120.000.000,00

120.000.000,00

180.000.000,00

2

180.000.000,00

40%

72.000.000,00

192.000.000,00

108.000.000,00

3

108.000.000,00

40%

43.200.000,00

235.200.000,00

64.800.000,00

4

64.800.000,00

40%

25.920.000,00

261.120.000,00

38.880.000,00

5

38.880.000,00

40%

8.880.000,00

270.000.000,00

30.000.000,00

Keterangan :

1)   Tarif saldo menurun = 2 x metode garis lurus = 2X20% =40%

2)   Penyusutan tahun terakhir tidak sama dengan 40% x nilai buku aktiva tahun ke empat, karena nilai sisa tidak boleh lebih rendah dari Rp30.000.000,00.

c)   Metode tarif menurun (declining rate on cost method)

Metode ini menggunakan suatu tarif tertentu dikalikan dengan jumlah yang harus disusutkan, hanya saja tarifnya makin makin menurun misal tahun ke-1=20% kemudian tiap menurun 2% sehingga tarif penyusutan 20%, 18%, 16%, 14% dan seterusnya.

  1. 4.      Metode penyusutan khusus

Metode penyusutan khusus dapat diterapkan  dengan alasan bahwa aktiva memiliki karakteristik yang unik atau sifat industrinya yang berbeda yang mana harus menggunakan metode penyusutan khusus. Metode ini dapat digolongkan ke dalam lima kelompok yaitu :

a.   Metode persediaan

Metode persediaan ini diterapkan untuk aktiva berwujud yang kecil-kecil seperti misalnya alat-alat pabrik (tools). Beban penyusutan akan dihitung seperti menghitung harga pokok penjualan pada persediaan barang dagangan. Keyso (1995:10) menjelaskan persediaan perkakas (tools) dapat diambil awal atau akhir tahun, nilai pada awal tahun ditambah harga pokok perkakas yang diperoleh untuk tahun itu dikurangi dengan nilai persediaan akan memberikan jumlah beban penyusutan untuk tahun itu. Metode ini memang praktis tetapi tidak ”sistematik dan rasional”, karena hampir mirip dengan pembebanan biaya pemeliharaan aktiva hanya menyediakan alat-alat sendiri tidak melalui bengkel di luar.

b.   Metode penarikan dan penggantian (retirement and replacement method)

Metode penarikan dan penggantian ini menggunakan asumsi bahwa kemungkinan bahwa penarikan atau penggantian berlangsung adalah sudah pasti, sebaliknya penyusutan hanyalah suatu fungsi bila penarikan atau penggantian terjadi. Perbedaan dari istilah penarikan dan penggantian adalah : metode penarikan (retirement) membebankan harga pokok yang ditarik (dikurangi nilai sisa) ke beban penyusutan sedangkan metode penggantian membebankan harga pokok unit yang dibeli dikurangi nilai sisa dari unit yang digantikan ke beban penyusutan.

c.   Metode kelompok dan gabungan

Pada perusahaan tentu memiliki beberapa aktiva yang sejenis, aktiva ini dapat dikelompokkan ke dalam aktiva yang mempunyai umur dan fungsi yang berbeda, maka aktiva ini bisa dibagi-bagi (dikelompokkan) sesuai dengan fungsinya. Namun juga dapat dikelompokkan berdasar aktiva yang tidak sama dan mempunyai umur yang berbeda, ini dinamakan metode gabungan (composite method). Perbedaan antara metode kelompok dan gabungan adalah : metode kelompok (group method) mengacu pada kumpulan aktiva-aktiva yang bersifat sama dan digunakan untuk aktiva yang bersifat homogen dan mempunyai umur kegunaan yang kurang lebih sama. Sedangkan metode gabungan (composite method) mengacu pada kumpulan aktiva yang bersifat tidak sama dan digunakan untuk aktiva yang bersifat heterogen dan mempunyai umur yang berbeda.

Contoh 5 :

Dari contoh beberapa aktiva (contoh 1 sampai 4) di atas yang disusun dengan metode yang berbeda, jika dimisalkan akan diubah menjadi metode gabungan dengan asumsi bahwa semuanya menggunakan metode garis lurus dan umur dianggap 5 tahun semua. Jika disusun dalam suatu tabel akan tampak seperti tabel di bawah ini.

Aktv

Harga Perolehan

Nilai Sisa

HP yang Didepresiasi

Taskiran Umur

Depresiasi Tahunan

   I

250.000.000,00

50.000.000.000,00

200.000.000,00

   5

40.000.000,00

   II

250.000.000,00

25.000.000.000,00

225.000.000,00

   5

45.000.000,00

  III

200.000.000,00

20.000.000,00

180.000.000,00

   5

36.000.000,00

  IV

300.000.000,00

30.000.000,00

270.000.000,00

   5

54.000.000,00

1.000.000.000,00

875.000.000,00

175.000.000,00

d.   Metode bunga majemuk

Metode ini umumnya digunakan pada industri pelayanan umum dan jarang digunakan pada industri-industri lain karena ”tidak rasional”. Sesuai dengan namanya metode bunga majemuk (compound interest method) adalah mirip dengan metode anuitas yaitu metode beban meningkat yang menghasilkan beban penyusutan yang lebih rendah pada tahun-tahun awal dan beban penyusutan yang lebih tinggi pada tahun-tahun belakangan. Hal inilah yang dikatakan tidak rasional oleh karena itu jarang digunakan.

Setelah dari beberapa metode di atas besarnya penyusutan dihitung maka dicatat dalam jurnal yaitu :

Beban depresiasi …………….  xx

Akumulasi depresiasi………….. xx

D. DEPLESI

Istilah Deplesi sering digunakan untuk akuntansi sumber daya alam, karena sumber daya alam juga termasuk aktiva tetap. Seperti halnya aktiva tetap lainnya sumber daya alam setelah dieksploitasi kemudian diolah terus menerus maka lama kelamaan sumber daya alam akan habis. Oleh karena itu perlu ada pembebanan biaya yang mirip dengan persediaan. Hongren Harison (2007: 501) mendefinisikan beban deplesi adalah bagian dari biaya sumber daya alam  yang digunakan selama periode tertentu. Contoh sumber daya alam yang dimaksud adalah tambang emas, bijih besi, minyak, gas alam. Hasil eksploitasi sumber daya alam tersebut kemudian diolah maka akan menjadi persediaan barang yang dapat dijual. Dengan demikian deplesi ini ada kemiripan dengan persediaan, depresiasi.

Zaki Baridwan (2007: 321) menyatakan beberapa perbedaan depresiasi dan deplesi sebagai berikut :

i.    Deplesi merupakan pengakuan terhadap pengurangan kuantitatif yang terjadi dalam sumber-sumber alam, sedangkan depresiasi merupakan pengakuan terhadap pengurangan service (manfaat ekonomi) yang terjadi dalam aktiva tetap.

ii.   Deplesi digunakan untuk aktiva tetap yang tidak dapat diganti langsung dengan aktiva yang sama jika sudah habis, sedangkan depresiasi digunakan untuk aktiva tetap yang pada umumnya dapat diganti jika sudah habis.

iii.  Deplesi adalah pengakuan terhadap perubahan langsung dari suatu sumber alam menjadi barang yang dapat dijual, sedangkan depresiasi adalah alokasi harga perolehan ke pendapatan periode yang bersangkutan untuk suatu service yang dihasilkan (kecuali dalam perusahaan di mana depresiasi dihitung berdasar hasil produksi.)

E. METODE PERHITUNGAN DEPLESI

Seperti halnya depresiasi dalam menghitung besarnya deplesi perlu memperhatikan faktor-faktor : harga perolehan aktiva, taksiran nilai sisa jika sumber alam sudah selesai di eksploitasi dan taksiran hasil yang secara ekonomis dapat di eksploitasi. Rumus yang digunakan hampir sama dengan depresiasi metode aktivitas yaitu metode hasil produksi.

Beban deplesi = jumlah unit yang dihasilkan

Contoh 6 :

Suatu perusahaan pengeboran tambang bijih besi membeli tanah yang mengandung bijih besi tersebut senilai Rp 500.000.000,00, ditaksir dapat di eksploitasi sebanyak 4.500 ton. Tanah tersebut setelah dieksploitasi diperkirakan masih mempunyai nilai sisa Rp50.000.000,00. Jika tahun pertama dapat dieksploitasi sebanyak 1.500 ton maka beban  deplesi dapat dihitung sebagai berikut  =

Beban deplesi =  = Rp 150.000.000,00

Jurnal yang dibuat untuk mencatat beban deplesi adalah :

Deplesi ………………………………Rp 150.000.000,00

Akumulasi Deplesi …………………………………….Rp150.000.000,00

Latihan Soal

 

Soal 1:

Suatu aktiva dengan harga perolehan Rp 100.000.000,00 diperkirakan berumur 4 tahun dengan nilai residu Rp 10.000.000,00. Dalam 4 tahun diperkirakan  dapat memproduksi 200.000 unit dan jika dihitung dengan jam pemakaian 300.000 jam.

Diminta:

Buatlah perhitungan depresiasi jika digunakan metode :

  1. Angka Tahun (disertai pembuatan tabel)
  2. Saldo Menurun Ganda (disertai pembuatan tabel)
  3. Jumlah produksi jika tahun pertama berproduksi 70.000 unit

Soal 2 :

Suatu aktiva dengan harga perolehan Rp 180.000.000,00 diperkirakan berumur 4 tahun dengan nilai residu Rp 20.000.000,00.Dalam 4 tahun diperkirakan dapat memproduksi 800.000 unit, dan jika dihitung dengan jam pemakaian dapat dipakai 400.000 jam.

Diminta:

Buatlah perhitungan depresiasi jika digunakan :

  1. Metode  Angka Tahun (disertai pembuatan tabel)
  2. Metode Saldo Menurun  atau metode % tertentu dari nilai buku (disertai pembuatan tabel).
  3. Metode jumlah produksi jika skala produksinya :tahun 1: 170.000 unit ; tahun ke 2, 230.000 unit; tahun ke 3 : 220.000 unit  dan tahun ke 4 : 180.000 unit .
  4. Metode jam jasa jika tahun ke 1 digunakan  120.000 jam; tahun  ke 2, 110.000 tahun  ke 3,95.000 dan tahun ke 4, 75.000 jam.

 

 

 

 

SOAL 3 :

PT. Aku mempunyai kendaraan yang dibeli pada tanggal 1 Januari 2008 dengan harga Rp 90.000.000,00 diperkirakan berumur 6 tahun. Pada tanggal 1 Juli 2009 ditukar dengan mesin dengan menambah uang Rp 20.000.000,00 dan selembar wesel Rp 10.000.000,00 harga pasar Rp 45.000.000,00.

Mesin yang baru ditaksir berumur 5 tahun dan setelah berjalan 2 tahun diadakan penilaian kembali dengan harga perolehan kembali Rp 40.000.000,00 dengan kondisi 60 %.

Diminta:

Buatlah jurnal yang berhubungan dengan aktiva tersebut dan disertai perhitungan !

 

SOAL 4:

Neraca PT. Rini pada tanggal 1 Januari 2000 menunjukkan saldo-saldo sbb:

Asuransi dibayar di muka                                           Rp      360.000,00

Mesin dan perabot (umur ekonomis 8 tahun)             Rp 60.000.000,00

Akumulasi depresiasi mesin dan perabot                    Rp 24.000.000,00

Gedung (umur ekonomis 20 tahun)                            Rp 90.000.000,00

Akumulasi depresiasi gedung                                     Rp 22.500.000,00

Asuransi dibayar di muka adalah 2 buah polis :

  1. Untuk mesin & perabot, jumlah pertanggungan Rp 30.000.000,00 tanggal 1 Juli 1998, jangka waktu 3 tahun premi Rp 120.000,00
  2. Untuk gedung jumlah pertanggungan Rp 45.000.000,00 tanggal 1 Januari 1999 jangka waktu 3 tahun dengan syarat asuransi bersama 80 %, premi Rp 1.800.000,00.

Pada tanggal 1 Januari 2000 rekening asuransi dibayar di muka menunjukkan jumlah sebagai berikut :

Mesin dan perabot                                          Rp 120.000,00

Gedung                                                           Rp 240.000,00

Pada tanggal 1 April 2001, kebakaran yang merusak seluruh mesin dan perabot, persediaan barang (harga pokok sebesar Rp 25.000.000,00 dan tidak diasuransikan) dan dua pertiga gedung. Harga pasar barang-barang yang terbakar pada saat kebakaran adalah mesin dan perabot Rp 40.000.000,00; gedung Rp 70.000.000,00; dan persediaan barang Rp 25.000.000,00.

Diminta:

  1. Buatlah perhitungan yang meliputi jumlah kerugian ganti rugi yang diterima dari asuransi!
  2. Buatlah jurnal yang diperlukan mulai dari kebakaran sampai menerima ganti rugi dari pihak asuransi!

 

SOAL 5:

1 Maret 2001 : Dibeli kembali 100 lembar saham sebagai Treasury Stock dengan harga Rp 6.500,00 per lembar , saham yang dimaksud adalah saham yang dijual tanggal 1 April 2000 dengan harga Rp 6.000,00 per lembar.

1 Juli 2001 : Saham yang dibeli sebagai Treasury Stock tersebut dijual kembali dengan harga Rp 7.500,00 per lembar.

Diminta :

Buatlah jurnal yang berkaitan dengan transaksi jual beli saham tersebut, Treasury Stock  dicatat  dengan metode nilai nominal!

SOAL 2:

PT. Sarinah pada tanggal 1 Januari 1998 merencanakan akan mengeluarkan obligasi sebanyak 1000 lembar obligasi dengan nominal Rp 10.000,00per lembar, bunga 12 % pertahun dan dibayar tiap setengah tahun pada tanggal 1 Januari dan 1 Juli, obligasi jatuh tempo 1  Januari 2001. Berikut adalah transaksi yang berkaitan dengan transaksi yang berkaitan dengan obligasi.

1 Maret 1997          : Diterima pesanan 200 lembar obligasi dengan harga Rp 20.920.000,00 dan baru diterima pembayaran 40%, sisanya dibayar sebulan kemudian.

1 April 1997           : Diterima pelunasan sisa yang 60% dan sekaligus diserahkan 200 lembar obligasi yang dipesan.

1 Juli 1997              : Dibayar bunga obligasi selama 6 bulan.

1 September 2000   : Obligasi tersebut dilunasi dengan kurs 95%.

Diminta :

Buatlah jurnal yang diperlukan disertai perhitungannya!

SOAL 3:

Firma Abadi beranggotakan Badu dan Badi membagi labanya 2:1. Pada tanggal 7 Nopember 2001 mereka merubah bentuk perusahaan menjadi PT yang diberi nama PT. Sinar Surya. PT. yang baru dengan modal saham biasa 5000 lembar dengan nilai nominal Rp 10.000,00 per lembar. Semua aktiva Firma Abadi (kecuali kas) diserahkan kepada PT. Sinar Surya dan semua hutang Firma Abadi akan dilunasi oleh PT. Sinar Surya. Firma Abadi menerima 3000 lembar saham untuk penukaran perusahaannya yang dibagi 2000 lembar untuk Badu dan 1000 lembar untuk Badu. Sisa saham yang 2000 lembar dijual dengan harga Rp 15.000,00 per lembar.

Neraca yang diserahkan Firma Abadi adalah sebagai berikut :

Firma Abadi

Neraca

7 Nopember 2001

Kas                                              Rp  2.000.000,00                            Hutang lancar    Rp  4.500.000,00

Piutang                                        Rp20.000.000,00

Cad.Ker.Piut . Rp 2.000.000,00  Rp18.000.000,00                            Modal Badu                  Rp20.000.000,00

Persediaan  barang                      Rp  7.000.000,00                            Modal Badu      Rp10.500.000,00

Aktiva tetap                                 Rp10.000.000,00

Akum.Depr.   Rp 2.000.000,00  Rp  8.000.000,00

Jumlah                                        Rp35.000.000,00                            Jumlah             Rp35.000.000,00

Dalam perubahan itu oleh PT Sinar Surya diadakan beberapa perubahan terhadap catatan Firma sebagai berikut :

Cadangan kerugian piutang dinaikkan menjadi Rp 3.500.000,00

Barang dagangan dinilai sebesar Rp 8.500.000,00

Aktiva tetap dinilai kembali menjadi Rp 15.000.000,00 dan akumulasi depresiasi sebesar Rp 2.500.000,00

Diminta :

  1. Buatlah jurnal yang berhubungan dengan perubahan bentuk perusahaan tersebut disertai dengan perhitungan!
  2. Sajikanlah neraca yang baru untuk PT. Sinar Surya!

SOAL 4:

Neraca PT. Rini pada tanggal 1 Januari 2000 menunjukkan saldo-saldo sbb:

Asuransi dibayar di muka                                           Rp      360.000,00

Mesin dan perabot (umur ekonomis 8 tahun)             Rp 60.000.000,00

Akumulasi depresiasi mesin dan perabot                    Rp 24.000.000,00

Gedung (umur ekonomis 20 tahun)                            Rp 90.000.000,00

Akumulasi depresiasi gedung                                     Rp 22.500.000,00

Asuransi dibayar di muka adalah 2 buah polis :

  1. Untuk mesin & perabot, jumlah pertanggungan Rp 30.000.000,00 tanggal 1 Juli 1998, jangka waktu 3 tahun premi Rp 120.000,00
  2. Untuk gedung jumlah pertanggungan Rp 45.000.000,00 tanggal 1 Januari 1999 jangka waktu 3 tahun dengan syarat asuransi bersama 80 %, premi Rp 1.800.000,00.

Pada tanggal 1 Januari 2000 rekening asuransi dibayar di muka menunjukkan jumlah sebagai berikut :

Mesin dan perabot                                          Rp 120.000,00

Gedung                                                           Rp 240.000,00

Pada tanggal 1 April 2001, kebakaran yang merusak seluruh mesin dan perabot, persediaan barang (harga pokok sebesar Rp 25.000.000,00 dan tidak diasuransikan) dan dua pertiga gedung. Harga pasar barang-barang yang terbakar pada saat kebakaran adalah mesin dan perabot Rp 40.000.000,00; gedung Rp 70.000.000,00; dan persediaan barang Rp 25.000.000,00.

Diminta:

  1. Buatlah perhitungan yang meliputi jumlah kerugian ganti rugi yang diterima dari asuransi!
  2. Buatlah jurnal yang diperlukan mulai dari kebakaran sampai menerima ganti rugi dari pihak asuransi!

 

SOAL 7 :

Neraca ringkas PT Abadi pada tanggal 31 Desember 1998 adalah sebagai berikut :

PT Abadi

Neraca 31 Desember 1998

                                                                       Utang jangka pendek   Rp   3.000.000,00

Aktiva lancar                  Rp   5.000.000,00  Utang jangka panjang    Rp   7.000.000,00

Aktiva tetap                    Rp 20.000.000,00                                       Modal saham biasa        Rp 13.000.000,00

Agio saham biasa         Rp   5.000.000,00

Laba tidak dibagi          (Rp  3.000.000,00)

Jumlah                            Rp 25.000.000,00   Jumlah                          Rp 25.000.000,00

PT Abadi melakukan reorganisasi semu pada tanggal 1 Januari 1999 dengan ketentuan sebagai berikut :

Aktiva tetap diturunkan menjadi Rp 12.000.000,00

Nilai nominal modal saham diturunkan 50%-nya, dicatat sebagai agio saham.

Defisit dihapuskan dan dibebankan ke rekening agio saham biasa.

Diminta :

  1. Buatlah jurnal untuk mencatat reorganisasi pada tanggal 1 Januari 1999.
  2. Buatlah neraca tanggal 1 Januari 1999 sesudah reorganisasi semu.

SOAL 8 :

PT “Angin Sumilir” pada tanggal 1 Januari 1998 memutuskan untuk mengeluarkan obligasi pada tanggal 1 Mei 1998 sebesar Rp 100.000.000,00, nominal Rp10.000,00 bunga 24% per tahun dan jatuh tempo pada tanggal 1 Mei 2003. Bunga obligasi dibayarkan setiap tanggal 1 Mei dan 1 Nopember. Pada tanggal 1 September 1998 seluruh obligasi telah dipesan oleh seseorang dengan kurs 93% dengan pembayaran uang muka sebesar 40% pada tanggal 1 September 1998, dan pada tanggal 1 Oktober 1998 telah dilunasi dan obligasi diserahkan.

Diminta :

  1. Membuat jurnal tanggal 1 September dan 1 Oktober 1998.
  2. Membuat jurnal penyesuaian pada tanggal 31 Desember 1998 yang berhubungan dengan bunga yang belum diterima dan amortisasi agio/ disagio.

 

SOAL 9 :

PT “Rejeki” mempunyai modal statuter sebanyak 1000 lembar nominal Rp10.000,00 dan akan dijual semuanya (ditempatkan). Transaksi-transaksi yang berhubungan dengan saham adalah sebagai berikut :

Pada tanggal 1 Pebruari 1999 dipesan saham sebanyak 500 lembar dengan kurs 105%, dibayar tunai 70% sisanya akan dibayar 30 hari lagi.

Pada tanggal 1 Maret diterima pelunasan sisa pesanan untuk 300 lembar saham, dan diserahkan kepada pemesan.

Pada tanggal 5 Maret pembeli menyatakan akan membatalkan pesanannya sebanyak 100 lembar, saham yang dibatalkan tersebut dijual lagi dengan kurs 95%. Uang hasil penjualan dikembalikan pada pemesan dikurangi dengan kerugian penjualan kembali saham yang dibatalkan tadi.

Latihan soal-soal

Lihat Bab saham treasury

SOAL 10 :

Pada tanggal 20 Januari 2000 PT “Tira Austine “ membeli saham treasury sebesar 500 lembar nominal Rp 2.500,00 dengan harga beli perlembar Rp 3.000,00. Pada tanggal 15 Maret dijual kembali 200 lembar saham treasury dengan harga per lembar Rp 3.250,00. Pada tanggal 25 April dijual kembali 200 saham treasury dengan harga Rp 2.300,00 dan pada tanggal 15 Agustus seluruh saham treasury dijual kembali dengan harga Rp 1.500,00.

Diminta:

Buatlah jurnal yang berhubungan dengan pembelian dan penjulan saham treasury jika perusahaan menggunakan metode :

  1. harga pokok
  2. nilai nominal.

SOAL 11:

Pada tanggal 31 Desember 1999 PT “Citra” mempunyai neraca yang menyajikan pos yang berhubungan dengan modal saham sebagai berikut :

Harta :

Piutang pesanan saham biasa              Rp 325.000.000,00

Piutang pesanan saham prioritas         Rp  84.000.000,00

Utang dan modal :

Saham prioritas 6% kumulatif terdaftar 100.000 lembar beredar 62.000 lembar          = Rp 62.000.000,00

Saham prioritas dalam pesanan 1500 lembar Rp 1.500.000,00 = Rp 62.500.000,00

Saham biasa, nilai nominal Rp1.000,00 per lembar terdaftar 200.000 lembar, beredar 36.000 = Rp 36.000.000,00

Saham biasa dalam pesanan (27.000 lembar)       Rp 27.000.000 Rp 63.000.000,00

Agio saham prioritas   Rp 34.000.000,00

Agio saham biasa        Rp 87.000.000,00

Saham dalam pesanan belum dibayar seluruhnya sampai dengan tanggal neraca. Dalam pengeluaran saham (bukan pesanan) termasuk 8000 lembar saham biasa untuk menukar mesin yang mempunyai nilai  pasar Rp 125.000.000,00. Perusahaan didirikan pada tahun 1999. Neraca tersebut adalah neraca pertama perusahaan. Harga jual saham tunai maupun pesanan sama.

Diminta:

  1. Buat jurnal atas modal saham selama tahun 1999
  2. Hitung nilai per lembar saham biasa dan prioritas.
About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s